
Suatu waktu, dalam tayangan 'Empat Mata' di stasiun TV swasta dengan pembawa acara yang sangat lucu dan terkenal, bahkan tampangnya pun bisa dinikmati di Youtube.com, siapa yang tidak kenal dengan 'Tukul Arwana'. Pada tayangan dengan episode 'profesi' tersebut, ditampilkan profesi 'Tukang Gigi'. Dengan tingkah polah yang lucu, sedikit mengejek, pembawa acara menggoda bintang tamunya si 'Tukang Gigi'. Selanjutnya jelas, si 'Tukang Gigi' ini sedikit menerangkan apa saja yang dikerjakannya, dengan membawa beberapa contoh model dan bahan kepada pemirsa TV.
Ok, saya tidak akan membahas lebih lanjut acara tersebut, yang jadi perhatian saya adalah, si 'Tukang Gigi'. Bukan sekali ini 'Tukang Gigi' jadi bintang TV, mungkin dalam beberapa acara variety show yang lain pun sudah pernah ditanyangkan. Dan secara jelas, 'Tukang Gigi' pun memberitahukan ditayangan tersebut bahwa ilmu dan pendidikan mengenai alat, bahan, dan tehnik yang digunakan terhadap pasien-pasiennya didapat dengan otodidak.
Berdasarkan hal inilah, tentunya menjadi perhatian saya. Dalam beberapa kasus pasien yang mendatangi saya (baik untuk konsultasi maupun perawatan), mereka pernah dirawat pada 'Tukang Gigi'. Contoh kasus; ada pasien yang ingin dicabut giginya, karena gigi tersebut sakit dan goyang, setelah saya periksa dan meng-anamnesa, pasien tersebut memakai gigi tiruan buatan 'Tukang Gigi'. Kenapa ini menjadi masalah?
Ini menjadi masalah, saat saya melihat bahwa gigi (sisa akar) yang akan saya cabut tersebut dalam keadaan bengkak, ada sedikit nanah (pus), dan kondisinya ditutupi oleh gigi tiruan buatan 'Tukang Gigi'. Dengan kondisi seperti ini, jelas saja menjadi masalah, karena faktor penyulit dalam pencabutan akan didapat dengan memperhatikan kondisi pasien, pasien harus diobati terlebih dahulu bengkaknya, dihilangkan dulu nanahnya, barulah bisa dicabut bila memang kondisi yang diatas hilang. Kasihan si pasien...
Dan ini baru satu masalah, melihat masalah lainnya, semua jaringan gusi dan gigi yang masih ada kondisinya sangat memprihatinkan, bengkak (oedem), oral hygene yang buruk, dan tampak adanya sariawan (denture stomatitis) akibat gigi tiruan yang tidak baik adaptasinya.
Apa yang saya dapatkan kali ini, jelas sekali masyarakat masih lebih percaya dengan 'Tukang Gigi' untuk memeriksakan kondisi kesehatan gigi dan mulutnya dibandingkan dengan dokter gigi. Mungkin dengan prinsip, datang sekali perawatan beres, biaya murah meriah dan terjangakau. Tetapi tidak memperhatikan dampak lebih lanjutnya.
'Tukang Gigi' berbeda dengan 'Tehniker Gigi'. 'Tehniker Gigi' biasanya berprofesi membantu dokter gigi dalam pekerjaan laboratorium. Apa yang dibuat oleh dokter gigi dibuat di dalam lab. oleh 'Tehniker Gigi' dengan pengawasan dan arahan dokter gigi. Dan jelasnya, basic pengetahuan 'Tehniker Gigi' didapat dari sekolah Akademi Tehnik/Lab Kedokteran Gigi, bukan otodidak atau turunan.
Dan ini bukan contoh kasus yang saya dapatkan sekali ini saja, masih banyak kasus-kasus lain, pertambahan masalah perawatan 'Tukang Gigi'. Mungkin dipostingan yang lain akan saya jelaskan lebih lanjut...
Masih ingin dirawat oleh 'Tukang Gigi'? Mengatasi masalah dan mempertambah masalah....
| Mau APPLY KARTU KREDIT Pasti Approve? Download Ebooknya - >CARA CULUN DAPAT KARTU KREDIT! |
Diagnosa : Tukang Gigi, Mengatasi masalah dengan masalah
Label:
diagnosa
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Dari saya Untuk Anda
Jika anda berkenan dengan isi tulisan di blog ini, silahkan di copy/paste, jangan lupa untuk cantumkan link asal dari tulisan ini.
Catatan Kuliah si Joe
Catatan Kuliah si Joe



: 


14 komentar:
bagus sekali..seharusnya PDGI memberi perhatian lebih thd tukang gigi yang praktek seperti layaknya dokter gigi..di sby ada tukang gigi yang mengklaim bisa pasang ortho cekat lo..gila ga tuh???
thanks dah mampir dok...
ya memang ini jadi hal yang diperihatinkan oleh saya, belum dapat solusi yang terbaik soal ini, mungkin masyarakat yang lebih pintar untuk mencari solusi dan jawabannya langsung....
salam
:)
Yah,kalo mau meneliti,lebih baik diperbanyak referensinya,
Brapa banyak tukang gigi yg mlakukan kesalahan?
Setahu saya kalo masih ada sisa gigi,biasanya tukang gigi juga hanya berani memasang gigi sistem lepas pasang,
Apa masyarakat menengah k bawah sudah puas dgn pelayanan drg. slama ini?
Contoh nyata:tetangga saya memasang gigi tiruan d dokter gigi dgn harga relatif mahal,eh 2 hari setelah itu dilepas dgn alasan tidak nyaman dan sakit d mulut,
Kmudian dia pasang gigi tiruan pada tukang gigi dgn harga relatif murah,ternyata awet lebih kurang 5 tahun,
Nah,apakah saya boleh langsung men-judge bahwa dokter gigi tersebut "kualitas kerjanya tidak baik"?
Bisa dipahami?
Salam sehat,:)
jangan dibuat dari 1 contoh langsung membuat kesimpulan seperti itu....
apa yang saya paparkan memang jelas faktanya tukang gigi lebih mengandalkan intuisi tidak didukung dengan pemahaman dan logika...
bila memang kasusnya pasien yang mengeluh karena gigi tiruannya sakit dan tidak enak tentunya bisa dikomunikasikan lagi dengan dokternya karena memang itu etikanya....
itu jawaban saya atas komen anda...
Saya rasa apa yg dikatakan si "Anonymous" ini cukup membuat saya tertawa. Tertawa prihatin maksudnya.
Ilmu dan wawasan anda kurang tapi uda berani membuat kesimpulan "hanya" dengan 1 contoh. Waww
Sepertinya anda harus banyak baca, banyak nonton, dan banyak mendengar. Mendengar fakta maksudnya :)
Tukang gigi TIDAK PERNAH mengandalkan ilmu. Titik.
satu hal yg perlu diperhatikan dan dititik beratkan adalah, bahwa suatu masalah, tetaplah masalah, tp jgn saling membongkar setiap masalah, toh orde reformasi jga hanya bs membongkar orba, tanpa ada hasil. sekarang liat disekitar ja, bercermin pada hal yang ada didepan mata, buka mata, buka hati.
@TresSTres : ga nyambung sob bahasannya antara tukang gigi ke orde baru atau reformasi...
ini masalah klinis sob.thx
kenapa sih kalian pada nyalahin tukang gigi...??? dalam sejarah itu sebelum ada dokter gigi, tukang gigi itu memang sudah ada..... kenapa kok baru sekarang di permasalahkan....,
@combatsniper53 : makasih udah mampir...jika berkenan boleh dong share fakta sejarah soal tukang gigi sudah ada sejak dahulu kala...
kok itu aja sih yg diributin.. gak ada kerjaan apa...?? sama2 cari makan aja kok kek gituuuuuu klo masalah fakta tukang gigi itu sdh ada sblm dr gigi. anda bisa ambil di tempat aq kerja ok,,, lanud iswayudi magetan
ma'af sblmnya, saya sdh ikut campur... sama2 cari makan aja, sdhlah gak usah di permasalahkan.. klo mau faktanya anda bisa datang langsung ke tmpat saya bekerja / lanud iswahyudi magetan ok...
@combatsniper53 : tulisan saya berdasarkan pengalaman saya pribadi, contoh kasus...jadi bukan untuk dipermasalahkan. Jikapun berkenan mas combat ingin menuliskan pengalamannya juga jika dirasa itu perlu ya monggo saja...silahkan buat tulisan/blog.
dari
wong deso ra ngerti opo opo
Pemerintah telah mengatur batasan praktik tukang gigi sebagai bagian dari pelayanan
kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 339 tahun 1989 tentang kewenangan
pekerjaan tukang gigi.
Dalam salah satu pasalnya tertulis bahwa tukang gigi dalam melakukan pekerjaannya
diberikan wewenang dalam hal membuat gigi tiruan lepasan dari karilik sebagian
atau penuh dan memasang gigi tiruan lepasan
salam damai
@shahadat : Per.MenKes. itu udah lagi ditinjau ulang, mau direvisi atau dihapus saya tidak tahu, karena Per.MenKes itu banyak yang harus ditinjau ulang.
apa yang saya tuliskan hanya berdasarkan kasus yang saya temui, justru saya mengharapkan tukang gigi bisa bekerja sama dengan baik dengan praktisi medis (dokter gigi) misalnya; ada pasien yang ingin pasang gigi palsu, tolong dicek dulu kondisi kesehatan rongga mulutnya disarankan ke pasien untuk periksa dulu ke dokter gigi, nanti juga urusan pasien mau pasang gigi palsunya dimana dikembalikan ke pasien. beri pengertian seperti itu ke pasien.
Post a Comment